Wednesday, November 23, 2011

A not-so-AMBITIOUS Thought


I often tell myself: don’t be too ambitious. Dream big, be optimistic, but don’t let the ambition drives you nuts.

Saya tergoda untuk nulis tentang ini setelah bercengkrama dengan seorang sahabat. Dia sedang berdilema dalam menentukan arah karir; antara bekerja di tempat oke yang gajinya gede, atau di tempat yang menurut mayoritas biasa aja, bayarannya so-so, tapi bisa ngasih kepuasan batin karena sesuai sama passion-nya.
Ketika saya dimintai pendapat, jawaban saya cuma: simply do what you love.
Memang itu kedengarannya super cliche. Then again, apa sih yang lebih pewe dari ke-bisa-an untuk melakukan sesuatu yang bikin seneng?
Kemudian saya ingat lagi percakapan dengan teman lain. Intinya, kami menyahutkan mimpi masing-masing yang tingginya mungkin udah ngalahin langit. Dari lanjut kuliah di luar negeri, kerja di negara yang berbeda dalam periode tertentu, menikah di kapal pesiar, liburan ke Irlandia, dan hayalan gila lainnya. 

Is it wrong on having crazy ambitions? Of course not. Inget dong frase terkenal dari Arai tentang jangan takut bermimpi, karena mimpi-mimpi itu dipeluk oleh Tuhan?

The question is, how far we can/should go? What is the extent of enough?
Jawabannya? Tergantung.
Tergantung apa? Ya tergantung anda masing-masing.
Kenapa? 

  • Ngga ada yang bisa menggeneralisasikan garis cukup. Cukup buat saya, belom tentu cukup buat orang lain; dan sebaliknya. Ada manusia yang merasa cukup dengan hidup di kota kecil, punya keluarga bahagia dan kondisi ekonomi yang biasa saja. Ada juga yang merasa cukup jika hidup di kota besar, tidak bermasalah dengan keuangan dan hidup sendirian tanpa kewajiban untuk menanggung siapapun. Kita ngga bisa menyamakan level sejahtera kita dengan siapapun, karena each and everyone of us has different wants, needs, capacity and capability. Dan satu hal yang saya percaya (anda boleh ikut percaya ato ngga), Tuhan itu maha adil. Apa yang dilebihin di kita, dikurangin di kehidupan orang lain. Apa yang tidak kita miliki, dicukupkan untuk mereka. Dimana letak adilnya? Di kesanggupan kita untuk menerima dan menjalani. Kenapa masih banyak yang komplain dan ngga bisa melihat titik adil? Karena kurang bersyukur dan sibuk bacot tentang apa yang kurang instead of berterima kasih untuk yang berlebih. 
  • Ambition is a strong word. Kembali ke pertanyaan awal, sejauh apa kita boleh berambisi? Kalo menurut saya sih, kita boleh berambisi setinggi mungkin, asal ngga sampe bikin kita lupa sama Tuhan dan apapun yang kita lakukan ngga akan nyakitin/ngerugiin orang banyak. Nah, gimana-gimananya, tergantung anda yang menjalani deh.
  • People’s opinions will waylay, but then they’ll walk away. Apapun yang kita lakukan, pasti bakal diomongin sama orang lain. Ambisi apapun yang kita tanam, saat itu bertumbuh jadi buah manis ato malah mati, orang-orang bakal jadiin itu bahan pembicaraan. Ya, namanya juga manusia bermulut. They can’t help it. Banyak yang berambisi tinggi hanya untuk show off ke orang lain. Ada juga yang takut menjadi bahagia dengan sederhana, hanya karena orang lain punya kadar bahagia yang ngga simple dan mesti materialistically enough.  Tapi mau sampe kapan hidup di bawah bayang-bayang pendapat orang lain? Yang mau jalanin hidup siapa? Yang bakal punya beban untuk memenuhi ambisi siapa? Yang bakal nanggung resiko atas ekspektasi yang dibangun siapa? Silahkan dijawab sendiri. As for me, I listen to what people say, cuma buat bahan introspeksi doang. Buat ngebiarin mereka ngacoin hidup dan bikin saya jatoh? Haha, saya ngga se-unyu itu juga kali.

Kesimpulannya:
Kenali apa yang kita suka, lakukan itu sebaik mungkin, bermimpi dan berambisilah sampai batas ‘cukup’, be picky in taking people’s judgement toward you, dan ibarat kata D’Masiv, syukuri apa yang ada. Do your best and let God do the rest.
Dan tenang aja, saya bikin ginian juga buat saya implementasiin ke diri sendiri, bukan niat ceramah, hehehe.

Peace out!
DITA, 23/11/2011




Monday, October 24, 2011

IF THIS IS WHAT PEOPLE CALL "CURHAT", THEN IT IS.

It's 3:30 in the morning and I'm pretty sure I am allowed to have some random even delusional thoughts at this very moment. Whatever comes out by the time I click "publish" button, well, pardon it will you? Its even fine with me if in the middle of this piece you'd be like "what the heck? I better check my friendster rather than reading this junk". Your call peeps. I don't care what you think anyway.

I'm just sort of having a little confusion about a few things. About how mutual feeling becomes such a big deal for me.

I suck at analogy, so I'm just gonna mumble a bit and try to portray the situation.
There's a girl, there's a guy. The guy loves the girl, the girl doesn't. "Not anymore" maybe can replace the "doesn't" part. It's a whole 1000 miles long story. You wouldn't want to hear the details.

The problem is, why would this thing happen?
The cycle is so not pretty by all means.
People are yelling around all the time saying "what goes around comes back around".
The girl once hurt. Though in the end she realized, she wasn't that hurt. She's just trapped in the fact that she failed at keeping all stuff together. She was just a drama queen wanting everything to be perfect though she knew everything wouldn't. And now when the clock turns, the love once (kind of) gone is back, there she is standing in the middle of messy puzzle where she could really hear her brain speaks louder than her heart. Cool, huh?
Is she glad because the guy finally crawling back, begging to be loved and finally got his karma? Hell no. IT FEELS LIKE ES-EICH-AI-TI. It's like having a bowl of yummy ready to eat cream soup in front of you, but you want to wait for the big chunky pizza God knows where to find it because you're sure you deserve more than just a soup. See? I told you I'm bad at analogy.

Isn't it better if the girl just try to love the guy back?
Isn't it cuter if the girl just be thankful and appreciate the guy's attention toward her?
Isn't it easier if the girl just give it a freaking try. Starting all smooth and fresh.
Isn't it awesome if the girl is not me, my self?

I envy people who could easily give second chance to the ones they love and how they sincerely accept the fact that no one is perfect. I salute people who can have peace with whatever happened in the past and just move on together creating a better journey for each other. That's just beyond sweet, isn't it?

It's just too ironic. I see my self in the mirror and I am like, "dude, why don't you just use your simplicity mantra?" I've been so proud of how I don't complicate things.
But things turn out become a lot more complicated without you even try to make it be. What's worse is I know exactly where the complication comes from. ITS IN ME (no, I wasn't thinking Aqua. Though now I am)

If I have to relate this to people around me, man... I feel like a chicken running around with a T-shirt saying "arrogantly doesn't know how to be thankful". I mean, how many people are stuck in this ironic stage. When you love but aren't loved. Or you're loved but you can't love back. All those not-so-silly whatnot.

Arrrgh. If only I could just eat the soup and be happy about it.

PS: NO, I DON'T NEED ANY-ONE'S COMMENT ABOUT THIS, THANK YOU VERY MUCH. LET'S JUST PRETEND I'M DRUNK.

FOREVER AND ALWAYS

(WARNING! Ini note random banget. Mending kalo ngga siap mental jangan dibaca)

Selamat sore rekan-rekan  se-jagad maya. Sore ini saya mau... mau apa ya... umm... ummm... aduh galau nih mau apa... (minta digeplak). Maklum ya, saya lagi mabok nyari tempat magang. Dari kemaren udah bergelut ria sama CV, sekarang mau manjain diri dengan nulis sesuatu yang tidak berhubungan sama sekali dengan dunia permagangan. Bismillah. Boleh mulai? Yak, makasi...
Seandainya kalian cukup mengenal saya, pasti udah pada tau saya sukanya nulis apa.
Tenang... kali ini bukan puisi galau lagi kok. Tapi review lagu! Ehehehehehehe (gak tau juga kenapa mesti ketawa).
Tapi demi pencitraan sebagai “penulis galau dan unyu” saya mau nge-review tentang satu lagu yang super sweet lebih sweet dari susu kental manis.  Judulnya “Forever and Always”. A very descriptive song by Parachute. Lagu yang dikenalin oleh belahan-belahan jiwa saya, si Ijun dan si Acab.
Mari kita baca dulu liriknya satu-satu. Siapin tissue ya kalo-kalo ntar air matanya keluar sendiri.


 [Verse 1:]
She's sitting at the table, the hours gettin later
He was supposed to be here
She's sure he would have called
She waits a little longer, there's no one in the driveway
No one's said they've seen him
Why, is something wrong?
She looks back to the window
Suddenly the phone rings
A voice says something's happened
That she should come right now
Her mind goes to December
She thinks of when he asked her
He bent down on his knees first
And he said

[Chorus:]
I want you forever, forever and always
Through the good and the bad and the ugly
We'll grow old together
Forever and always

[Verse 2:]
She pulls up to the entrance
She walks right to the front desk
They lead her down a million halls, a maze that's never ending
They talk about what happened but she can barely hear them
She tries to keep a straight face as she walks into the room
She sits by his bedside, holds his hand too tight
They talk about the kids they're gonna have and the good life
The house on the hillside, where they would stay

[Chorus:]
Stay there forever, forever and always
Through the good and the bad and the ugly
We'll grow old together, and always remember
Whether rich or for poor or for better
We'll still love each other, forever and always

[Bridge:]
Then she gets an idea and calls in the nurses
Brings up the chaplain and he says a couple verses
She borrows some rings from the couple next door
Everybody's laughing as the tears fall on the floor
She looks into his eyes, and she says

[Chorus:]
I want you forever, forever and always
Through the good and the bad and the ugly
We'll grow old together, and always remember
Whether happy or sad or whatever
We'll still love each other, forever and always
Forever and always, forever and always

She finishes the vows but the beeps are getting too slow
His voice is almost too low
As he says, I love you forever, forever and always
Please just remember even if I'm not there
I'll always love you, forever and always

Ehm. Sedih ya lagunya? I know... Buat yang males baca lirik panjang gitu, nih saya kasih kesimpulannya: lagu ini tentang 2 orang yang saling cinta. Pas mau nge-date, si cowok kecelakaan dan sekarat. Karena inget pas Desember si cowok pernah ngelamar (or something like that), akhirnya si cewek mutusin buat nikah di rumah sakit dengan perlengkapan seadanya. Sayang sekali, si cowok keburu meninggal. The end. Buat yang pada skeptis, pasti pada mikir ini lagu sinetron/drama Korea banget. Tapi tetep aja, bagus kan? Hayo ngakuuu...
Pas pertama kali denger lagu ini, saya nangis loh. Bukan karena pernah ngalamin juga, tapi karena si penulis pinter banget deskripsiin beberapa kejadian di satu lagu. Pokoknya sesuatu banget deh.
Beberapa pelajaran yang bisa diambil dari lagu ini adalah:

 1.       POSITIVE THINKING YOW!
Berapa orang disini yang kalo ngga dihubungin pacar beberapa jam aja langsung ngambek? Angkat tangan! Yang ngga angkat tangan ketauan keteknya bau. Sebelom berspekulasi dengan pikiran-pikirang negatif seperti “jangan-jangan dia sms-an sama cewek/cowok lain”, “jangan-jangan dia bla bla bla”, “jangan-jangan dia bli bli bli”, mending pikirin hal yang lebih positif. Kalo ngga dikabarin beberapa jam, jangan ngambek. Ya kalian aja yang nanya duluan. Kalo ngga dibales, berarti lagi sibuk. Mungkin lagi mandi, BAB, tidur, maen game, shopping, solat, dll. Kalo seharian belom dapet kabar juga, nah itu baru mesti dicari tau lebih lanjut. Buat yang ditungguin kabarnya, ya kalo ada waktu, kabarin secepatnya. Nunggu itu ngga enak, bukan? Intinya, jangan bikin kesimpulan apa-apa kalo belom/ngga tau apa-apa.

2.       BE GOOD AND LEAVE GOOD MEMORIES  :)
Ngga ada yang tau kan kita bakal meninggal kapan? Jadi berbuat/berprilaku baiklah selagi hidup. Jangan jadi orang nyebelin. Cerita di lagu ini sih enak (ntar, jangan salah tanggap dulu). Maksudnya si cewek ngga akan merasa nyesel sedikitpun. Disaat terakhir dia ketemu cowoknya, yang mereka bagi adalah cinta. Bayangin deh kalo sebelum orang yang kamu sayang meninggal, hal terakhir yang kalian lakukan adalah marahan, perang di Twitter/BBM/SMS, atau hal-hal ngga enak lainnya. Sebelum menyesal di akhir, pikir-pikir lagi sebelum membenci atau mutusin tali silaturahim (sementara) sama orang-orang tersayang. Jadi kalo salah satu ada yang dipanggil Tuhan duluan, yang tersisa adalah kenangan yang manis, atau se-ngganya, kenangan yang baik.

3.       SAY WHAT YOU FEEL BEFORE ITS TOO LATE.
Berapa orang disini yang mau ngucapin sayang, kangen dan lain-lain tapi nyangkut di gengsi? Dih ngga ada yang angkat tangan. Pada malu-malu semua nih, ngga asik. Nah, jadi lagu ini mengajarkan kita untuk “katakan saja selagi bisa”. Buat yang lagi ngejar cewek bertahun-tahun tapi ngga berani nembak, tembak aja sekarang! Kemungkinan terjelek ya ditolak. Bayangin kalo anda udah nahan perasaan eh tiba-tiba maut memisahkan. Aih... perih itu.  Say it! Just say it! *siap-siap dilemparin rumput sama jomblo-jomblo ngenes*.

Anyway, silahkan di download lagunya. Enak kok, ngga mellow-mellow gimana juga. Semoga bisa dapat pembelajaran. Maaf ya, namanya saya lagi mabok magang, jadi tulisannya agak-agak bikin mabok juga, hehehe.

At last, think twice before doing anything that YOU KNOW you will regret.

DITA PURNAMA, 11.10.11

Here's the video with written on the screen lyrics to sing along. Enjoy!

Thursday, September 15, 2011

Karena Hujan (akan) Selalu ...


Hujan selalu menjebak

Menjebak raga yang parau

Menjebak jiwa yang galau

Menjebak hati yang pilu

Menjebak nurani yang biru


Hujan selalu membasahi

Membasahi tepian yang suram

Membasahi mata yang dikala buram

Membasahi genteng yang berkenang

Membasahi ruang rindu yang jarang menang


Hujan selalu meninggalkan

Meninggalkan jejak yang berarak

Meninggalkan wangi yang tak terlacak

Meninggalkan impian yang sempat ada

Meninggalkan haru diujung beranda


Yang aku tahu, hujan selalu mengingatkan

Mengingatkan akan sesuatu

Sesuatu yang membatasi lingkar khayalku

Yang mungkin hanya engkau yang tahu

picture's source

Tuesday, September 13, 2011

NOTE INI SAYA TULIS SENDIRI, BUKAN DIKOPI DARI TEMAN

Hello Facebookers, bloggers, onliners dan siapapun di dunia maya yang lagi baca tulisan ini. Seneng ngga saya nulis lagi? Samaaa! Saya juga seneng akhirnya bisa ngetik cantik lagi! (nanya sendiri, jawab sendiri itu namanya apa? Ga usah dijawab)

Anyway, latar belakang tulisan saya ini (Widiiih latar belakang. Ya maklum senior2 saya lagi pada mabok skripsi, saya kebawa arus, hehe) adalah note yang tadi malem di-tag-in ke saya oleh seorang teman. Nih link notenya, silakan baca dulu kalo mau. Biar nyambung sama note saya nanti.

Inti dari note tersebut adalah: Cowok kodratnya memilih, cewek dipilih. Cowok kodratnya mencinta, cewek dicinta. Cowok kodratnya mengejar, cewek dikejar. Eh perasaan inti2nya sama aja ya, hahaha. Ya pokoknya cewek mesti belajar mencintai cowok yang mencintai dia, bukan ngarepin cinta cowok yang ngga mencintai dia. Untuk lebih lengkapnya, baca aja sendiri notenya. (Fyi, note tersebut murni dari sudut pandang cowok, so, it’s quite interesting)

Saya pribadi suka sama notenya. Sangat manusiawi dan Indonesiawi sekali. Poin-poin yang saya setujui adalah:

  1. Cewek ngga boleh agresif. Kenapa? Ya karena cewek agresif itu annoying. Apalagi kalo yang dikejar jelas-jelas ngga suka. Yasalam, kasian aja jadinya. Cowok yang agresif juga nyebelin. Segala yang over agresif pokoknya ngga bagus deh.
  2. Cewek mesti ngasih kesempatan agar dirinya dicintai. Nah ini bener, tapi mesti dibahas lebih lanjut.
  3. Wanita berhak diperlakukan se-spesial mungkin. Karena saya wanita, saya setuju dong. Ya ngga jema’aaaaaah?

Sampailah kita pada isi dari tulisan saya ini. Yang pasti ini hanya opini pribadi. Ya, kayak rebuttal dalam debat gitu deh. Yang bener yang salahnya ngga penting. Yang jelas saya akan merambah area kodrat2an cewek dan cowok ini dari sudut pandang wanita. Cusss...

Beberapa hal yang ingin saya bantah, eh bukan bantah juga sih, tapi tanyakan lagi mungkin ya lebih tepatnya, adalah:

  1. Cowok itu tidak belajar mencintai; dia hanya jatuh cinta. Masa sih? (pertanyaan ini datang dari teman dekat saya) Kalo dilihat dari realita sekitar (baca teman-teman cowok saya), ada loh beberapa yang bahkan bisa meninggalkan cewek yang (katanya) dia cinta hanya karena ada cewek lain yang agresif mendekati. Ngga sedikit malah yang ngga nolak dan mau mencoba mulai karena cewek yang dia sayang ngga bisa didapetin/ngga cocok lagi sama dia. Kalo emang cewek bisa belajar mencintai, kenapa cowok ngga bisa belajar juga? Bukannya setiap manusia pengen dicintai ya? Kalo cewek ingin di-per-ratukan, emang cowok ngga mau di-per-rajakan? Kalo cowok disuruh milih, kalian bakal milih mana? “Cewek yang mencintai kalian setulus hati mereka”, atau cewek yang “yaudahlah ya, kasian gue sama lo, gue terima deh sini”. Kalo cowok ngerasa ketika mereka dicintai tanpa mencintai mereka akan mudah tergoda cewek lain, apa ngga ada kemungkinan cewek yang kalian cinta juga hanya bakal mencintai kalian setengah hati?
  2. Wahai cewek-cewek, cintailah lelaki yang mencintai kalian, niscaya kalian akan diperlakukan bak ratu. Okeh, saya rasa ngga banyak yang nolak buat jadi ratu. Apalagi kalo dapet suami yang ganteng kayak Prince William. Tapi masalahnya, dalam menjalin satu hubungan, emang cinta doang cukup ya? Naively speaking, mungkin buat beberapa orang cinta itu cukup. Tapi kalo mesti realistis, banyak banget yang wanita harus pertimbangkan sebelum bilang “iya” ke cowok. Setiap wanita itu butuh security. Rasa aman, nyaman, tentram, seimbang dan terarah. Percuma aja cowok menghujani dia kata-kata cinta, tapi ketika diajak diskusi, si cowok cuma dengerin ngga ngasih feedback. Percuma aja cowok bisa belai-belai sayang, tapi pas si cewek butuh imam buat Solat atau mimpin doa, dia ngga bisa. Percuma aja kalo si cowok bisa bikin puisi dan lagu romantis, tapi seharian kerjanya dirumah doang nonton TV, madesu dah. Women need a lot more than just LOVE. Wanita (dan laki-laki) harus bisa jadi partner di segala aspek kehidupan. Sebelom wanita bilang “iya”, dia harus yakin dulu kalo si cowok bisa dijadiin tempat bersandar; phisically, mentally and spiritually. Jadi menurut saya, ngga salah kalo wanita agak sedikit picky. Mungkin dia ngga mau menjadi ratu. Hanya ingin jadi orang biasa yang mendapat ketentraman lahir batin.
  3. Relationship would never be fair if there’s only one person doing the fighting. Mengkotak-kotakkan si cowok kodratnya mencinta dan cewek kodratnya dicinta itu ngga salah, tapi ngga bener juga. Menurut saya, dua-duanya berhak mencinta dan dicinta. Kalo main kodrat2an dari jaman baheula, bisa-bisa saya udah dijodohin dan disuruh nikah dari umur 16 taun kemaren sama cowok antah berantah. Bukannya saya bilang di jaman modern cewek mesti ngejar-ngejar dan nembak cowok. Nggak gitu. Cuma, hubungan yang sehat itu bakal tercipta kalo ada sense of mutualism-nya. Bahasa gaulnya: sama-sama suka, sama-sama sayang, sama-sama cinta. Kalo rasa udah sama, ya ngga perlu lagi belajar mencintai, cukup belajar menjalani dan melengkapi. TAPI, kan itu yang susah di jaman sekarang. Giliran cewek suka, si cowok kaga mau. Giliran si cowok suka, ceweknya yang kaga mau. Giliran cewek udah baik, cowoknya yang bangsat. Giliran cowoknya yang baik, si cewek yang bejat. Pusing deh cyyyn, hahaha. Intinya, kalau udah gini, bukan cuma cewek, tapi cowok juga mesti belajar mencinta. Saya udah sering make scripture ini, tapi ngga papa deh dipake lagi: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Tuhan mengetahui sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al-Baqarah:216). Daripada buru-buru nembak ato bilang “iya”, kenapa ngga mulai PDKT dulu biar cinta datang karena telah terbiasa, dududuuu *dewa 19 mode=ON*

Jadiiii (tenang, ini udah paragraf akhir kok, hehe), mungkin ada benernya kalo all’s fair in love and war (pernah baca dimana gitu, lupa). Setiap orang berhak berjuang untuk cintanya. Kodrat boleh dijadiin tameng, tapi wanita juga punya hak untuk memilih seperti halnya lelaki boleh milih; dalam memilih ya harus bijaksana dan jangan sampe sok kejam juga. Banyak berdoa biar dikasih petunjuk. Yang namanya cinta, jangan mau hanya diberi, tapi harus saling memberi dan menerima. Kalo cewek bisa di-ratu-in, cowok juga berhak di-raja-in oleh wanitanya.

Sekali lagi, ini hanya pendapat saya pribadi. Saya ngga minta dianggap benar. Ini cuma pertanyaan dan pernyataan yang keluar secara spontan. Sekian, dan terima komentar.

At last, good women are for good men and good men are for good women” (QS.An Nur:26)

May you find the love of your life :)

picture's source

Thursday, August 25, 2011

GAME OVER

Terkadang ada yang harus berakhir.

Walau terhalau rasa getir.

Tanpa alasan yang menembus batas pikir.

Karena yang sudah berakhir, berarti berakhir.


Terkadang ada yang harus berakhir.

Walau diri ada di ambang nadir.

Menyumpah atas nama takdir.

Karena yang sudah berakhir, berarti berakhir.


Terkadang ada yang harus berakhir.

Di singgahi si perih yang selalu mampir.

Disaat pendamai hati tak lagi hadir.

Yasudahlah.

Karena yang sudah berakhir, berarti berakhir.


Terkadang ada yang harus berakhir.

Dibalut butir-butir kenang yang terlanjur membanjir.

Tak penting galau yang berarak mondar-mandir.

Karena yang sudah berakhir, berarti berakhir.

picture source

Wednesday, August 10, 2011

If SEPARATED is the answer.

Hey para galau-ers. Bagaimana di bulan puasa ini? Masih menggalau? Masih dong ya, ngga galau kan ngga asik. Saya sampe sekarang masih penasaran siapa yang mempopulerkan kata “galau” sampe bener-bener ngetrend dikalangan kawula muda saat ini. Ahzek.

Anyway, lanjut. Kali ini saya mau nulis tentang...wait for it...REVIEW LAGU! Ha! I know, I know, pasti udah banyak yang kangen. Sekarang saya datang untuk mengobati rasa rindu itu *minta dilempar jemuran*

Kali ini lagu yang mau saya bahas berjudul SEPARATED yang dinyanyiin sama bang Usher. Saya yakin udah banyak yang tau lagu ini. Liriknya sering dikutip para cewek buat ngasih kode ke cowoknya kalo si cowok udah mulai cuek. Nunjukin betapa mereka ngga cocok tapi dalam hati ngarep kalo si cowok bakal berubah, hahaha. Ok, mungkin ngga bisa digeneralisasikan juga.

Tema yang mau saya angkat adalah “LET GO”. Wohoho udah akrab banget dong ya sama dua kata ini? Agak basi? Wah jangan salah. Sering dibahas sih iya, perealisasiannya masih minim banget. Kali ini saya mau membahas, dengan harapan setelah baca ini banyak yang tergerak buat merealisasikan. Ok, bismillah. Baca dulu ya liriknya:

If love was a bird, then we wouldn't have wings

If love was a sky, we'd be blue

If love was a choir, you and I could never sing

'Cuz love isn't for me and you

If love was an Oscar, you and I could never win

'Cuz we could never act out our parts

If love is the Bible, then we are lost in sin

'Cuz it's not in our hearts

If love was a fire, then we have lost the spark

Love never felt so cold

If love was the light, then we're lost in the dark

Left with no one to hold

If love was a sport, we're not on the same team

You and I are destined to lose

If love was an ocean, then we are just a stream

'Cuz love isn't for me and you

Girl, I know we had some good times

It's sad but now, gotta say goodbye

Girl you know I love you, I can't deny

Can't say we didn't try to make it work for you and I

Know it hurts, so much but it's best for us

Somewhere along this winding road we lost the trust

So I'll walk away, so you don't have to see me cry

It's killing me, so, why don't you go

Why don't you go your way and I'll go mine

Live your life and I'll live mine

You'll do well and I'll be fine

'Cuz we're better off separated. I'm sorry we didn't make it

Mengharukan banget ya liriknya. Emang dasar bang Usher nih. Ngerti-ngerti aja cara ngambil hati para galau-ers.

First of all, saya suka lagu ini karena banyak banget analoginya. Usher mengumpamakan keadaaan cinta yang udah ngga layak diperjuangkan ke hal-hal simple disekitar kita yang bisa bikin kita manggut-manggut bilang “iya juga ya...”

Saya yakin banyak banget yang pernah stuck di kondisi kaya gini (saya juga pernah kok, ngga perlu malu): Pacaran lama. Nyadar akhirnya ngga cocok. Tapi karena udah terlalu lama sama-sama jadinya ngga bisa ngerelain yang udah berlalu. Akhirnya? Terjebak di satu hubungan yang sebenernya udah ngga sehat, tapi demi kenangan yang ada, lanjut terus deh sampe mampus. Atau skenario lainnya kaya gini: Udah putus, tapi ngga bisa ngerelain fakta bahwa hubungan itu udah berakhir gara-gara, yak kembali lagi, kenangan yang udah terlewati bersama. Wah ini sih kayaknya sumber galau paling tokcer.

Saya bukan ahli juga sih masalah cinta-cintaan begini. Tapi mudah-mudahan buah pikir yang saya tulis bisa buka mata dan hati saudara-saudara galau-ers biar bisa terlepas dari jerat yang bikin nyesek (ceile bahasa lo Diiiit)

Kembali ke tema LET GO. Let go ini sodara sepupuan sama ikhlas. Sama-sama tau lah ya susahnya mengikhlaskan itu gimana. Lewat kata-kata di lagu ini, yang bisa saya tangkep agar let go itu bisa mudah:

1. Tanya ke diri sendiri, why doesn’t the relationship work?

Jadi sebelom mutusin buat nangis seharian liatin foto-foto lama, analisa dulu, eh sebenernya kenapa bisa berakhir sih? Kenapa gue jadi sedih total begini? Dia yang gue tangisin sekarang pantes ngga gue tangisin? Intinya, belajar meraba-raba apa yang salah. Ngga ada asap kalo ngga ada api. Hubungan yang baik-baik aja ngga akan berakhir kalo ngga ada masalah. Nah coba dipikir lagi tentang si masalah yang dimaksud. Kenapa si masalah bisa bikin semuanya berakhir? Kalo kita udah tau letak zona merahnya dimana, kita ngga bakal terjebak lagi dengan bertanya-tanya “kenapa?”. Kalo si cowok/ceweknya pergi ninggalin gitu aja tanpa ada masalah yang berarti? Ya justru itu masalahnya. Get it? Kalo ngutip si Bang Usher, doi bilang If love was a bird, then we wouldn't have wings. Kalo burung udah ngga ada sayap apa jadinya? Atau If love was a choir, you and I could never sing. Gimana mau nyanyi kalo ngga bisa nyatuin suara? See? Mungkin anda bisa menganalogikan hubungan anda ke hal-hal lain?

2. Jangan ngotot ngelupain, tapi perlahan terima keadaan.

Disaat kita udah bisa terima kenyataan, kita bakal bisa hidup di masa sekarang dan ngga terkontaminasi sama keadaan yang udah lewat. Justru kita jadinya bisa bersyukur, yang udah lewat bikin kita sakit, terus sembuh, dan akhirnya makin kuat. As odd as it sounds, emang butuh waktu buat bisa nerima. Yah namanya juga adaptasi, ngga bisa instan juga kali. Intinya jangan tanemin “gue mesti lupa, gue mesti lupa”, instead, tulis di otak “Yang udah terjadi emang nyakitin. Semoga sakit yang sekarang worth it buat kebahagiaan gue di masa depan” Kalo udah bisa gini, beuh sensasi lapang di dada langsung terasa (true story). Ibaratnya kata bang Usher It hurts so much but it's best for us.

3. Bikin skenario tentang masa depan tanpa si dia.

Awal-awalnya pasti pada mikir “aduh gue ngga bisa tanpa dia” atau “dia satu-satunya yang mau gue jadiin pendamping hidup gue selamanya” atau “kalo dia ngga ada mending gue mati aja”. Well, wajar kalo berpikiran kaya gitu. Tapi coba pikir lagi, masak sih hidup kita tanpa si dia bakal separah itu? Yang bikin kacau itu ketidak-adaan si dia atau kitanya yang bikin persepsi sendiri jadi ujung-ujungnya kita menggalau tak berujung? Ini kan step ke tiga. Kembali lagi aja ke step-step awal. Tanya kenapa, terus terima fakta dengan akal sehat, terus yang ketiga ya optimis aja kalo you will be fine. Because you will! Kalo udah bisa bikin mind set kaya yang bang Usher bilang: “Why don't you go your way and I'll go mine. Live your life and I'll live mine. You'll do well and I'll be fine. 'Cuz we're better off separated”, wah otomatis your life will be so much easier.

Yang paling penting dan paling diremehin orang-orang sebenernya bersyukur dan tawakal. Kalo udah bisa berprinsip, Tuhan selalu ngasih yang kita butuhin, pasti ngga ada deh istilah galau-galauan.

In the end, kita cuma manusia yang (ngerasa) tau segalanya yang terbaik buat kita, padahal Tuhan jauh lebih tau apa yang terbaik buat kita. Yap, yang menurut kita jelek, belom tentu jelek. Yang menurut kita bagus, mungkin Tuhan udah nyiapin yang lebih bagus (QS. Al-Baqarah:216)

So, praktek emang ngga akan segampang teori.

Tapi kalo ngga dicoba, ya ngga bisa-bisa dong?

Mohon maaf kalau ada kata-kata yang salah. Ini hanyalah catatan kecil dari saya yang sesungguhnya terus berusaha untuk tetap bersyukur.

At last, let yourself free, let go, let God :)

-Dita Purnama

August 10, 2011

source of picture:

Monday, August 1, 2011

If Only Every Month is Ramadan

(Its a repost from my Facebook note last year. My unproductive day urges me to put it in this blog, haha. Enjoy reading!)


First of all
note ini tidak ditujukan buat siapa-siapa. Saya lagi boring aja ga ada kerjaan. Hanya bermodalkan opini satu pihak (opini pribadi maksudnya) dan ga pake referensi religi dan lain-lainya (lagi males buka-buka google). Ini murni cuma akumulasi dari kata-kata random bermakna dangkal yang ada di otak saya. Jangan terlalu dianalisa deh ya. Anggap aja ini curhat. No offense to anyone

Jadi gini, tadi pagi saya nonton iklan di TV yang intinya menyarankan wanita muslimah buat pake baju sopan pas bulan puasa. Belom lagi infotainment yang nge-ekspose kegiatan selebriti yang mendadak alim (in terms of clothing and singing religious songs). Not forgetting the non stop apology messages that I’ve been getting the last few days. Saya ngga bilang itu hal yang jelek ato gimana. Ga ada salahnya dong memanfaatkan bulan yang suci dan penuh berkah buat do something yang bisa ngasih impact positif buat diri sendiri dan orang lain. Tapi rasanya kok sayang banget yah kalo bulan Ramadan kesannya malah jadi tameng doang. Orang-orang pada minta maaf, pake baju yang menutup aurat, rajin ibadah, die trying to be a good person, and so on and so forth. Tapi pas Ramadannya udah abis? Ya paling kembali ke rutinitas semula. Baju sopan bukan lagi kewajiban, ibadah kapan inget aja, bikin dosa bla bla bla dan Insya Allah kalo ketemu Ramadan lagi di taun berikutnya—tobat lagi deh. Just like an endless cycle.

So what’s the point of Ramadan itself then? Saya bukan orang yang super religius. Saya cuma manusia yang punya kesadaran penuh bahwa saya adalah kreasi dari pencipta semesta yang saya sebut Tuhan/Allah; yang mempunyai kekuatan lebih besar dibanding apapun. Saya yakin Tuhan menciptakan bulan Ramadan dengan tujuan yang kongkrit. Tanpa bermaksud sotoy, saya rasa Tuhan mau bulan ini bukan hanya dimanfaatkan buat tobat instan. Inget ga dulu ada iklan yang tag-line nya “mulai dari nol lagi ya”. Nah! That really gets me! Ketika Ramadan berakhir kita emang seharusnya be a new person. Kaya bayi yang baru lahir kalo kata Pak Kiyai. Ketika bayi ini kembali tumbuh dan menjalani hari-hari, sayang banget kan kalo ga ada progres buat pendewasaannya? Maksudnya gini, setelah Ramadan, setelah 30 hari aktif memperbaiki diri, sayang banget kalo 11 bulan kedepannya hari-hari tetap terjalani as if the Ramadan never happens. Sayang banget kalo 11 bulannya bakal ada pemikiran “ah ntar bulan puasa aja deh tobatnya”. Dari situlah saya sadar, wah ntar abis Ramadan harusnya saya lahir jadi bayi lagi, dan hari-hari ke depan emang harus dilalui secara maksimal dengan orientasi yang jelas. Trus hal-hal yang ga disukai sama Tuhan diminimalisir deh (dihilangkan lebih bagus lagi). Kalo kata Aa Gym: jaga hati—ga peduli di bulan apapun. Persiapin diri, kalo kalo ga sempet ketemu lagi sama Ramadan di tahun berikutnya.

Ada satu lagi yang menggelitik hati adalah menjamurnya media buat minta maaf. SMS, twitter, facebook, you name it lah. Kadang-kadang tiap nerima sms saya sempet suuzon “ini orang apa beneran tulus yah minta maafnya?”. Ga tau kenapa jadi kangen juga jaman-jaman dulu pas sering silaturahmi dan maaf2an secara langsung. Salaman, pelukan, trus ngomong langsung kalo mau minta maaf biar dari mata keliatan tulus ato ga nya. Aduh sekarang mah tinggal ketik-ketik-ketik---send all---jadi deh. Simplicity is good, I know that. Tapi entah kenapa maknanya terasa berkurang. Teknologi emang tujuannya memudahkan; membuat jarak jadi tak berarti. Tapi kalo kemudahan malah mengurangi makna? Ah ga tau lah. Emang dasar saya konvensional kali ya,hahaha. Anyway...

Ini bukan ceramah loh ya. Saya juga sadar diri lah sebelom mau ngasih ceramah. Wong ngurus diri sendiri aja belom becus, hehehe. Tapi ya ini cuma gejolak batin (ci elaaaaaa -..- darah muda). Maksud dan tujuan saya menulis juga simple aja:
1. Memuaskan diri. Dirumah sekarang cuma ada adek saya yang berumur 8 taun. Saya baru mulai ngomong paling dia udah kabur duluan maen PS.
2. Ngasih warning ke diri saya sendiri. Bikin tanda tanya besar; MAU NGAPAIN AJA LO DI BULAN INI DIT? ABIS BULAN INI LO BISA LEBIH BAIK GA? Ya gitu lah. Biar ibadahnya terarah dan ga useless.
3. Buat jadi bahan perenungan aja.

Curhat selesai. Sekalian nih berhubung tadi sempat nyindir-nyindir tentang teknologi yang mempermudah penyebaran informasi, saya mau minta maaf yang setulus-tulusnya (tulus beneran loh ini, tatap mata saya, bwahaha). Semoga tahun ini ibadah kita bisa maksimal. Pas Syawal datang kita bisa mulai dari nol lagi dan buat kelanjutannya bisa jadi manusia yang lebih baik, bermanfaat, dan dicintai Tuhan, amin.

Peace.

-Dita Purnama
August 10 2010

picture source

Sunday, July 3, 2011

A DAY THAT 'ROCKS' ME

Yes! Finally it happened!
The Rock.

Dwayne Johnson.

The man I've adored since I was 10 replied my tweet! I'm not joking. He sent it through his official Twitter account. Here, no picture means hoax right? I give you the picture just to make sure I'm not dreaming.



O well. You can't see it that well. Just go to his Twitter account; @TheRock. Go see it your self :)

I've been trying and trying to get this for like 5 months; since he made a Twitter account on February. I wrote him everyday and never get a single reply. Then on June 30 2011, I wrote him:

"I'm having a quiz in a minute and now secretly tweeting you cz I see you online! Can you please show me that you read it? Puhlease"

Then in two minutes, something happened. He replied:

Can you believe it?
Do you know how I feel? Goodness, words can't even describe it. It was surreal. It was like that moment when you got your first car, first kiss, first tattoo (not like I've ever gotten any of them, haha). It's just, amazing! I was speechless and can't believe that he really read my tweet and replied it even though his timeline is flooded with thousand mentions from his fans.

I know this is such a middle school attitude. You know where you're starting to have someone who inspires you so much. The thing about The Rock is, he's not just my idol, he's like a part of me and my life. I grew up watching him every week on that so called Smack Down show. Later on he becomes my inspiration to go to USA and guess what? I did it! As corny as it sounds, he made me want to go to USA so bad. Yes he did. Even though I haven't gotten that chance, but until now, that biggest wish of me meeting him is still safe in my heart and my mind. Someday, someway, I gotta be able to meet him and letting him know that he plays a big role in my life. I want him to know that he was my first and best English teacher.

Don't raise one eyebrow to me people, I don't see him as my God or anything. Its just he motivated me in so many ways. He caught my attention since I was in the elementary school, that's why he's like a heuristic element in me. I know it's bad adoring a person too much. No one is perfect. I'm sure he has his lack here and there. I'm just saying, he motivates me. If what I do leads to something good, it couldn't a bad thing to be such a huge fan, right?

What's on my mind now is, if I can get his reply, I surely can meet him one day :)
Amin.

GLEE



I was transferring some movies into my friend’s hard drive when I saw that one folder of ‘GLEE’. O yes, I know what GLEE is, of course. I’ve seen some of the episodes by accident a couple times. I’m liking the songs that they’ve been singing, so why not giving it a try and watch the whole first season?

I love watching series. Whatever the title is, I’m in. I do though have some that I prefer to watch; drama and comedy. When I’m thinking GLEE, I automatically compare it to High School Musical. Before I watch it, I don’t think there will be any difference. All those high school drama at typical American public school. The quarterback, the cheerleaders, the jocks, the weirdo, and how the complexity joints and finally there’s a platform to meet all them up; glee club! Hey, don’t get me wrong. I watched High School Musical like thousand times (okay, not that much). I do enjoy all the cheesy story packed in a not awesome-but fun musical, then in the end the kids will get the lesson and motivated to ... I don’t know; be them self, believe in them self, reaching dreams, you know all that. Yes, thank you Disney.

This weekend I got a chance to watch the first season of GLEE. Well, I didn’t watch the whole twenty something episodes all in one day. I skipped out some of the boring parts till I finally get the whole thing and whoosh... go straight to the last episode. I have this bad habit about watching series. Korean, Hollywood, anything, I can’t help but skip to the last episode. I know, it will ruin everything. It’s just, I can’t help it you know. It’s like this weird ambition of mine of predicting how the story ends and looking up whether my prediction is right or wrong at the last episode. Freak. I know.

So, what can I say about GLEE?

First of all, this is the most predictable series ever. O well, it’s not that hard to find out what’s going on and what will happen next. At first I don't get why people like it so much.

BUT THEN, I watched the episode where Rachel sings ‘The Only Exception’. O dear God, that’s it. Right there! Now I know why people; or mostly teenagers love it.

Yes, sorry guys, it’s all just that TOO GOOD TO BE TRUE STORY. When an average girl gets the heart of the most popular guy at school. Turns out this most popular guy also has the best heart. Ah, sweet isn’t it?

The sweet fantasy that lies in everyone about becoming a star. Who doesn’t want to be a star? If I watch this at my middle school age, wooow I’ll worship this. Why? Because it makes me feel good after watching it. It’ll pump up my adrenaline saying that there’s nothing that I can’t reach. Even if I’m the weirdest girl at school, there’s gotta be a super cute guy will wait for me at a show choir rehearsal and we sing Endless Love to each other.

On the contrary, that’s not how reality works, isn’t it? I’m not trying to be cynical here, I just talk about real stuff. Few things can’t be fixed just by singing and dancing about them. It also doesn’t make sense when they don’t prepare anything, all of a sudden they can sing and dance perfectly. Yes, I know I’m too hard on this. It happens when I’m watching Indian movies too. How they can dance and sing along where in the story they are JUST MET A FEW MINUTES BEFORE?

Okay, I think musical lovers are ready to slap me now.

Here, let me get this straight.

GLEE is alright. It's addicting. Its everything you wanted from a weekly drama musical. The songs are great; better than High School if I may say. I love the fact that they try hard on picturing “the impossible is impossible”. The lessons given are also worthy of your time watching it. I like how GLEE bluntly brings the audience to have different perspective about sensitive issues like teen pregnancy, gay right and bullying. The appearance of Josh Groban, Gwyneth Paltrow, Olivia Newton Jones and Britney Spears are extra creadit too.

All in all, its fun. When you’re sort of sleepy while looking at the drama that’s going on, just skip to the rehearsal or performing part like I did. And that Cory Monteith guy is cute too; the way he can’t dance and acts plainly awkward makes him a lot cuter. I hope the not-so-hot-anymore gossip about him dating Taylor Swift will become true. Taylor will finally find the right guy after all that broken hearted songs she wrote. Of course if in reality Cory is as good as Finn in GLEE. So, happy watching!

CORY MONTEITH

@TheRock used to be the only celebrity I follow on Twitter. And now I'm also following Cory. Yes, I think I had a little crush on this @frankenteen :">