Wednesday, November 23, 2011

A not-so-AMBITIOUS Thought


I often tell myself: don’t be too ambitious. Dream big, be optimistic, but don’t let the ambition drives you nuts.

Saya tergoda untuk nulis tentang ini setelah bercengkrama dengan seorang sahabat. Dia sedang berdilema dalam menentukan arah karir; antara bekerja di tempat oke yang gajinya gede, atau di tempat yang menurut mayoritas biasa aja, bayarannya so-so, tapi bisa ngasih kepuasan batin karena sesuai sama passion-nya.
Ketika saya dimintai pendapat, jawaban saya cuma: simply do what you love.
Memang itu kedengarannya super cliche. Then again, apa sih yang lebih pewe dari ke-bisa-an untuk melakukan sesuatu yang bikin seneng?
Kemudian saya ingat lagi percakapan dengan teman lain. Intinya, kami menyahutkan mimpi masing-masing yang tingginya mungkin udah ngalahin langit. Dari lanjut kuliah di luar negeri, kerja di negara yang berbeda dalam periode tertentu, menikah di kapal pesiar, liburan ke Irlandia, dan hayalan gila lainnya. 

Is it wrong on having crazy ambitions? Of course not. Inget dong frase terkenal dari Arai tentang jangan takut bermimpi, karena mimpi-mimpi itu dipeluk oleh Tuhan?

The question is, how far we can/should go? What is the extent of enough?
Jawabannya? Tergantung.
Tergantung apa? Ya tergantung anda masing-masing.
Kenapa? 

  • Ngga ada yang bisa menggeneralisasikan garis cukup. Cukup buat saya, belom tentu cukup buat orang lain; dan sebaliknya. Ada manusia yang merasa cukup dengan hidup di kota kecil, punya keluarga bahagia dan kondisi ekonomi yang biasa saja. Ada juga yang merasa cukup jika hidup di kota besar, tidak bermasalah dengan keuangan dan hidup sendirian tanpa kewajiban untuk menanggung siapapun. Kita ngga bisa menyamakan level sejahtera kita dengan siapapun, karena each and everyone of us has different wants, needs, capacity and capability. Dan satu hal yang saya percaya (anda boleh ikut percaya ato ngga), Tuhan itu maha adil. Apa yang dilebihin di kita, dikurangin di kehidupan orang lain. Apa yang tidak kita miliki, dicukupkan untuk mereka. Dimana letak adilnya? Di kesanggupan kita untuk menerima dan menjalani. Kenapa masih banyak yang komplain dan ngga bisa melihat titik adil? Karena kurang bersyukur dan sibuk bacot tentang apa yang kurang instead of berterima kasih untuk yang berlebih. 
  • Ambition is a strong word. Kembali ke pertanyaan awal, sejauh apa kita boleh berambisi? Kalo menurut saya sih, kita boleh berambisi setinggi mungkin, asal ngga sampe bikin kita lupa sama Tuhan dan apapun yang kita lakukan ngga akan nyakitin/ngerugiin orang banyak. Nah, gimana-gimananya, tergantung anda yang menjalani deh.
  • People’s opinions will waylay, but then they’ll walk away. Apapun yang kita lakukan, pasti bakal diomongin sama orang lain. Ambisi apapun yang kita tanam, saat itu bertumbuh jadi buah manis ato malah mati, orang-orang bakal jadiin itu bahan pembicaraan. Ya, namanya juga manusia bermulut. They can’t help it. Banyak yang berambisi tinggi hanya untuk show off ke orang lain. Ada juga yang takut menjadi bahagia dengan sederhana, hanya karena orang lain punya kadar bahagia yang ngga simple dan mesti materialistically enough.  Tapi mau sampe kapan hidup di bawah bayang-bayang pendapat orang lain? Yang mau jalanin hidup siapa? Yang bakal punya beban untuk memenuhi ambisi siapa? Yang bakal nanggung resiko atas ekspektasi yang dibangun siapa? Silahkan dijawab sendiri. As for me, I listen to what people say, cuma buat bahan introspeksi doang. Buat ngebiarin mereka ngacoin hidup dan bikin saya jatoh? Haha, saya ngga se-unyu itu juga kali.

Kesimpulannya:
Kenali apa yang kita suka, lakukan itu sebaik mungkin, bermimpi dan berambisilah sampai batas ‘cukup’, be picky in taking people’s judgement toward you, dan ibarat kata D’Masiv, syukuri apa yang ada. Do your best and let God do the rest.
Dan tenang aja, saya bikin ginian juga buat saya implementasiin ke diri sendiri, bukan niat ceramah, hehehe.

Peace out!
DITA, 23/11/2011